NEGASI NARASI “HAJI BAWAKARAENG” PASCA HARI RAYA IDUL ADHA DI GUNUNG BULU BAWAKARAENG
Keywords:
Gunung Bulu Bawakaraeng, Idul Adha, konstruksi sosial, ritual keagamaanAbstract
Indonesia sebagai masyarakat multikultural memiliki praktik keagamaan yang kerap beririsan dengan tradisi lokal dan membentuk konstruksi sosial tertentu. Salah satu fenomena tersebut ialah berkembangnya narasi “Haji Bawakaraeng” di Gunung Bulu Bawakaraeng yang diasosiasikan dengan pelaksanaan shalat Idul Adha. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses terbentuknya narasi tersebut serta mengidentifikasi bentuk praktik ritual yang dilakukan. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosial-keagamaan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam dengan purposive sampling, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data naratif, dan penarikan serta verifikasi kesimpulan. Hasil menunjukkan narasi terbentuk melalui proses pelabelan sosial dan simbolisasi, sementara praktik yang ditemukan berupa pendakian, shalat, doa, dan refleksi spiritual tanpa unsur rukun haji. Disimpulkan bahwa fenomena ini merupakan ritual religius lokal, bukan ibadah haji secara normatif. Penelitian selanjutnya disarankan mengkaji dinamika persepsi masyarakat dan implikasi lingkungannya secara lebih mendalam.


